Kasus Hilangnya Batu Zamrud (Maisie Hitchins #2)

image

Kali ini mau bahas buku anak lagi, tulisan Holly Webb yang buku pertamanya sempat saya coretkan beberapa waktu lalu.

Maisie Hitchins, gadis kecil yang bercita-cita menjadi detektif kali ini berkutat dengan kasus hilangnya kalung milik teman Miss Lotie Lane (yang merupakan salah satu penghuni kamar yang disewakan oleh nenek Maisie) yang bernama Sarah Massey.

Sarah Massey yang bertamu ke tempat Lotie Lane menangis sambil bercerita bahwa dia akan menikah dengan salah satu penontonnya, yang ternyata adalah seorang Duke. Sebuah kabar gembira? tentu saja. Akan tetapi ada hal yang membuat Massey sedih dan menangis ketakutan.

Kasus dimulai saat hilangnya kalung yang diberikan oleh Duke tersebut berliontinkan batu zamrud. Kalung tersebut pada awalnya disangka imitasi oleh Sarah tapi pada kenyataannya adalah batu zamrud asli bernilai mahal, Kalung tersebut juga merupakan benda yang diberikan turun temurun oleh keluarga Duke tersebut untuk mempelai wanita yang digunakan saat mereka menikah,

Penyelidikan Maisie dibantu oleh Eddie, anjing yang diselamatkannya pada buku pertama. Ternyata, sang pelaku juga membuat jebakan-jebakan lain untuk Massey saat penyelidikan berlangsung. Petunjuk demi petunjuk Maisie kumpulkan temukan. Sampai pada akhirnya dia menemukan pelakunya. Yang ternyata adalah …


Saya suka buku anak.

Bahasanya yang sederhana dan penceritaan yang tidak bertele-tele, sederhana sehingga tidak terlalu menguras pikiran untuk anak-anak. Begitu halnya dengan buku ini.

Apabila pada buku pertamanya mungkin sedikit membingungkan bagi anak-anak karena penyelesaiannya yang tidak terlalu jelas, kali ini Webb berhasil menyuguhkan cerita dengan bertahap sampai saat klimaks. (Ditambah dengan akhir yang menantang menyenangkan bagi Maisie :P)

Ignite Me (Shatter Me #3)

image

Dear, Juliette Cewek plin-plan

Sebenarnya aku nggak tahu musti ngomong apa sama kamu dan takut karena dirimu yang suka labil mendadak, tapi aku beranikan juga akhirnya. Maaf kalo tulisan ini sedikit ngaco, karena memang inilah yang aku rasakan tentangmu. Yup, plin-plan… entah kenapa aku merasa pendirianmu mudah goyah, kalo alasannya karena kamu manusia dan seorang perempuan bisa sedikit aku maklumi, meskipun pembelaanmu itu nggak kreatif tetap aja kamu itu kurang yakin sama pendirianmu. Sejak pertama kali kita bertemu, aku sudah hampir melemparkan dirimu ke jalan depan rumahku (yang ini mungkin aku dramatisir :D). Hampir tiap waktu lho, nggak ada hitungan hari malah… ketika kamu ngambil keputusan A tapi karena ngeliat reaksi yang lain, kamu jadi bimbang, ragu dan nggak yakin sama apa yang sudah kamu pikirkan sebelumnya. please, deh…. kamu tuh bukan bulu burung yang ringan dan suka kebawa angin. Meski aku akui akhirnya kamu sedikit berubah (cuman sedikit, ga usah GR), tapi aku apresiasi hal itu…. sekali lagi, meski cuman sedikit banget.

Dear, Juliette Cewek maruk

Kamu pikir hati cowok bisa dimainin? Apalagi oleh cewek sepertimu. Manfaatin kelemahan dan ketidakberdayaanmu untuk tempel sana tempel sini. Macam cicak aja kau ini, yang mendekati mangsanya diam-diam terus memakannya…(meskipun nggak kamu makan juga lah) dalam hal ini kamu kecewakan mereka, kamu hancurkan hati mereka. Jijik tahu nggak? Kalo memang kamu cuman butuh teman ya jangan berikan mereka harapan yang lebih. Emang bener bukan aku yang kamu kecewakan, tapi sebagai sesama manusia yang PUNYA perasaan, ngeliatnya aja bikin muak. Kamu kira kami barang yang bisa diganti siapa saja yang kamu mau?

Dear, Juliette Cewek lebay

Kamu tuh ya… bersikap biasa dikit bisa nggak? Kamu pikir kamu itu matahari? Yang dikelilingi planet-planet dan menjadi pusat galaksi kita ini. Kamu pikir kamu tuh yang paling sengsara di dunia ini? Yang paling sedih dan paling suci? Kamu tuh cuman cewek yang menyedihkan tahu nggak. Ngaku-ngaku keluarga tapi yang kamu pikirin cuman kamu, kamu dan kamu. Egoisnya ga ketulungan, apalagi saat kamu merasa seolah-olah dunia akan hancur bila kamu sedih. Terus yang kamu lakuin di gedung itu… Apa-apaan itu! Sok-sokan menguasai orang lain, blah….omong kosong. Nguasai diri sendiri aja bbutuh bertahun-tahun….lha ini?!?

Dear, Juliette Cewek ga penting

Rasanya cukup ini saja lah. Dibaca syukur, ga dibaca ya udah. Nulis ini juga cuma buat ngebuang waktu luangku kok… ga usah mikir kalo aku nulis ini KHUSUS buatmu..

Tepat dugaan anda!

Diatas saya menulis curhatan saya untuk tokoh utama IGNITE ME yang merupakan buku ketiga dari trilogi SHATTER ME yang ditulis oleh Tahereh Mafii yang merupakan buku pamungkas.

Juliette dan Warner merencanakan untuk melakukan kudeta, setelah Julliette yang berhasil sembuh dari tembakan Anderson dan dirawat oleh Warner yang di bantu oleh dua penyembuh. Juliette akhirnya keluar dari persembunyian dengan dibantu oleh Warner tentu saja dan bertemu dengan Kenji yang membawanya untuk menemui penduduk penghuni Omega Point yang tersisa masih hidup setelah serangan Anderson ke tempat itu.

Rencana baru yang akhirnya membuat Adam naik pitam selain karena persekutuan yang dilakukannya dengan Warner yang berniat membunuhnya, juga karena perasaan cemburu karena dia masih mencintai gadis itu pada saat itu

Apakah yang akan terjadi dan berhasilkah mereka membunuh Anderson?


Akhirnya….. selesai juga siksaan buku ini terhadap saya 😀

Mencoba bertahan dengan mengikuti buku ini sampai akhirnya. Dan dengan bangga saya menyatakan bahwa (drum roll, please) SAYA SELESAI. Dengan mengharapkan akhir dari cerita yang memuaskan hati dan pikiran tapi yang saya dapatkan akhir cerita yang “udah, gitu aja? oke”.

Ada dua hal yang menarik rasa ingin tahu saya dan membuat saya tidak sabar segera menyelesaikan buku ini, yaitu apa yang terjadi antara Warner dan Adam iykwim dan berhasil tidaknya mereka membunuh Anderson. Setelah sampai ke halaman 400 dan belum ada tanda-tanda jawaban atas apa yang saya cari, harapan saya pupus hilang dan siap-siap menelan kekecewaan. Roman yang terjadi di antara mereka ber-empat ber-tiga juga, seperti sinetron Indonesia dengan Cewek Galau sebagai center point-nya.

Perkembangan ceritanya sangat amat mengecewakan buat saya pribadi. Ketegangannya juga sangat minim, aksi yang bahkan sampai mendekati akhirpun tidak kentara. Semua seolah ditulis begitu saja supaya cepat selesai, fokus cerita pun lebih berpusat pada kisah percintaan si Cewek (pura-pura) Lemah dan bukan ke perjuangan kelompok itu demi sebuah kebebasan yang saya kira menjadi poin utama trilogi ini.

The Casual Vacancy

image

Akhirnya…..

Sebuah perjuangan pun berakhir di halaman terakhir (yang tidak tampak kalau sudah selesai sebenarnya).

The Casual Vacancy (Perebutan Kursi Kosong) adalah karya J.K. Rowling pertama setelah lepas dari bayang-bayang kesuksesan Harry Potter (meskipun sampai sekarang masih terpatri J.K. Rowling = Harry Potter).

Langsung saja….

Barry Fairbrother meninggal!!

Sebuah kabar yang mengguncang dan menghebohkan para penduduk Pagford. Barry Fairbrother sendiri adalah salah seorang yang duduk di Dewan Kota Pagford. Menjadi pembimbing Kelompok Dayung di salah satu sekolah, dan mempunyai perhatian lebih kepada para penduduk Fields.

Fields adalah sebuah pemukiman kumuh yang ada di Pagford yang dihuni oleh keluarga yang “dianggap” berantakan oleh sebagian penduduk Pagford. Berseberangan dengan Barry, Howard Mollison, Ketua Dewan Kota yang berpendapat bahwa Fields harus dilepaskan karena menimbulkan citra yang tidak bagus bagi Pagford yang dianggap sebagai pusat alam semesta.

Perebutan kekosongan kursi yang ditinggalkan Barry-pun menjadi hal yang penting. Apakah penggantinya merupakan sekutu warga Fields atau musuh bagi mereka.

Tetapi dampak yang ditimbulkan Barry tidak hanya itu saja, mulai dari perubahan Krystal Weedon yang kehilangan penuntun dan dihadapkan dengan kenyataan bahwa ibunya, Terri yang seorang pecandu dan pelacur, hampir kehilangan hak asuh atas adiknya, Robbie.

Parminder Jawandar, seorang dokter yang sama-sama duduk di Dewan Kota dan merupakan sekutu Barry. Tidak lupa Sukhvinder putrinya (yang dicap sebagai kegagalan) yang merupakan korban bullying di sekolahnya, terutama oleh Stuart Wall a.k.a. Fats yang merupakan anak dari Colin dan Tessa Wall, Wakil kepala sekolah dan guru pembimbing konseling di sekolah tersebut.


Tulisan diatas hanya sepenggal dari cerita dan masalah yang mewarnai Pagford.

Saya pribadi membaca buku ini dengan kandungan “penuh kebetulan”. Konflik yang terjadi tidak semata-mata akibat kematian Barry, banyak hal yang sebenarnya terjadi sebelum kematiannya (seperti masalah Sukhvinder dan Gavin-yang diatas tidak saya singgung) akan tetapi ‘kebetulan’ memuncak pada saat yang sama, Belum lagi pengertian “Kota” yang sebelumnya setidaknya saya berpikiran seluas kota yang saya tinggali saat ini, Solo (salah saya sebenarnya), tapi setelah membaca maka gambaran di otak menjadi lebih kecil lagi dan jarang penduduknya (dibawah 40KK mungkin) karena ‘kebetulan’ mereka mengenal satu sama lain dan ‘kebetulan’ saling berhubungan dan hal tersebut jelas terlihat pada saat klimaks.

Dari segi cerita, buku ini terasa lepas dari judulnya. Memang benar, fokus utama ceritanya tentang perebutan kekuasaan (dengan kursi dianggap sebagai simbol sama seperti di Negara kita) tapi dalam eksekusinya saya lebih melihat bahwa permasalahan sehari-hari lebih mendominasi seperti gaya hidup, seks, permasalahan penikahan, bullying, dan semacamnya. Karena itulah bisa kita singkirkan masalah politik yang ada karena tidak berasa intensitasnya yang merupakan alasan utama saya menunda membaca buku ini bertahun-tahun.

Buku ini menyoroti permasalahan yang sebenarnya sering terjadi di sekitar kita meski penyelesaiannya terasa hambar (lagi-lagi masalah Sukhvinder), percintaan Gavin yang dianggap angin lalu oleh Rowling menurut saya, Kisah Fats yang membuat saya memikirkan bagaimana Tessa dan Colin mendidiknya, belum lagi ketidakjelasan cerita yang membuat saya kehilangan arah akan identitas buku ini. Tapi, satu hal yang bisa saya ambil dapatkan dari buku ini, yaitu “Kita bertanggung jawab terhadap tindakan kita dan konsekuensi atas tindakan tersebut datang bersamaan dengan keputusan yang kita ambil”.

FYI, Saat coretan ini diturunkan digoreskan, Seri adaptasinya (dengan judul yang sama) yang merupakan hasil kerjasama BBC UK dan HBO US sudah keluar 2 dari 3 bagian yang direncanakan.