Fahrenheit 451

11386449_1579221732338407_756810237_n

“It’s fine work. Monday bum Millay, Wednesday Whitman, Friday Faulkner, burn ’em to ashes, then bum the ashes. That’s our official slogan.”

Guy Montag.

Seorang yang kesehariannya bertugas untuk membakar buku. Yap, pada masa ini buku adalah sebuah benda yang dilarang dan dianggap melanggar hukum. Setiap tindakan yang dilakukan oleh para fireman hanyalah dengan membakarnya. Apapun alasannya dan siapapun yang menghalanginya.

Suatu ketika Montag bersua dengan Clarrise yang tinggal di lingkungan yang sama dengan Montag, rasa penasaran Clarrise membuatnya dia berani untuk mengobrol dengan Montag dan kemudian bertanya padanya apakah dia bahagia, Montag kemudian menjawab bahwa dia bahagia meski dengan sedikit keraguan dan ketidakyakinan terhadap jawabannya sendiri. Tapi dia merasa bahwa dia bahagia…pada saat itu…setidaknya.

Pelanggaran terjadi, alarm meraung memanggilnya untuk bertugas. Dengan sigap bersama dengan timnya dan Kapten Beatty, mereka mendatangi rumah tersebut dan membakarnya, tentu saja karena pelanggaran dengan menyimpan dan memiliki banyak buku, usaha pemiliknya untuk menghalangi tindakan mereka pun sia-sia dan pada akhirnya sang pemilik memilih mati dengan buku-bukunya. Rasa penasaran dan ketidakpastian yang menyelubungi hidup Montag, membuatnya nekat dengan menyembunyikan sebuah bible dan membawa serta dengan drinya saat keluar dari rumah yang berubah menjadi arang dan abu tersebut.

Di rumahnya, rasa takut istrinya yang marah dengan benda yang dibawanya tersebut menyebabkan mereka beradu mulut. Karena benda tersebut, dirinya seolah menggila, menggusarkan hatinya dan merusak ketenangan hidup mereka yang berjalan sebagaimana mestinya, meski tidak menyurutkan rasa keingintahuan Montag dan berujung pada keberaniannya untuk mulai membaca. Tanpa dia sadari…saat itulah nasibnya berubah.

Montag tahu konsekuensi atas tindakannya, tapi apakah dia akan bertahan dari hal yang bisa menyebabkan peperangan, dan apakah pembakaran akan menimpa dirinya? Sanggupkah dia bertahan, berjuang demi sebuah buku, sebuah prinsip, sebuah keyakinan yang tumbuh didalam hatinya diluar hal tersebut?


Buku ini membuat membutuhkan pemahaman yang lebih dibandingkan dengan novel yang banyak beredar saat ini. Dengan membaca terjemahannya yang terlalu pakem sesuai dengan bahasa aslinya, akhirnya saya memutuskan untuk versi aslinya dengan sedikit mengerutkan kening untuk memahami ceritanya. Cerita yang pada awalnya menjatuhkan, tapi ditutup dengan keseruan tersendiri bagi penggemar tulisan seperti ini. Seperti membuka pandangan baru disela karya yang terlalu umum.

“Speed up the film, Montag, quick. Click? Pic? Look, Eye, Now, Flick, Here, There, Swift, Pace, Up, Down, In, Out, Why, How, Who, What, Where, Eh? Uh! Bang! Smack! Wallop, Bing, Bong, Boom! Digest-digests, digest-digest-digests. Politics? One column, two sentences, a headline! Then, in mid-air, all vanishes! Whirl man’s mind around about so fast under the pumping hands of publishers, exploiters, broadcasters, that the centrifuge flings off all unnecessary, time-wasting thought!”

Penegasan, perintah, penguatan pernyataan, ekspresi yang ditulis hanya dengan satu kata yang saling menguatkan satu sama lain. Kata-kata yang umum dipakai dalam keseharian. Akan tetapi pada buku ini saya mendapati kata-kata tersebut terasa lebih beremosi dan berkarakter. Mempunyai sifat kerasnya sendiri dan berdiri kokoh.

Yang saya bayangkan dalam pementasan drama adalah saat pelakon saling berhadapan, berbicara dan kemudian didalamnya salah satu pelakon bermonolog memberikan penjelasan mengenai sebuah perbuatan.

Terdapat banyak kata-kata atau kalimat-kalimat yang sejenis pada buku ini. Yang berpola sama dan sedikit membingungkan. Monolog yang diselipkan dalam dialog pada sebuah buku.

“Now let’s take up the minorities in our civilization, shall we? Bigger the population, the more minorities. Don’t step on the toes of the dog?lovers, the cat?lovers, doctors, lawyers, merchants, chiefs, Mormons, Baptists, Unitarians, second? generation Chinese, Swedes, Italians, Germans, Texans, Brooklynites, Irishmen, people from Oregon or Mexico. The people in this book, this play, this TV serial are not meant to represent any actual painters, cartographers, mechanics anywhere. The bigger your market, Montag, the less you handle controversy, remember that! All the minor minor minorities with their navels to be kept clean. Authors, full of evil thoughts, lock up your typewriters. They did. Magazines became a nice blend of vanilla tapioca. Books, so the damned snobbish critics said, were dishwater. No wonder books stopped selling, the critics said. But the public, knowing what it wanted, spinning happily, let the comic?books survive. And the three?dimensional sex?magazines, of course. There you have it, Montag. It didn’t come from the Government down. There was no dictum, no declaration, no censorship, to start with, no! Technology, mass exploitation, and minority pressure carried the trick, thank God. Today, thanks to them, you can stay happy all the time, you are allowed to read comics, the good old confessions, or trade?journals.”

dalam kalimat diatas penjelasan yang diberikan adalah tanpa jeda. Tanpa disela dengan kegiatan atau hal lain yang banyak ditemukan dalam novel modern. Membosankan, iya tapi menarik karena dengan seperti itu sebuah kalimat tampak lebih kuat apabila dibandingkan dengan kalimat yang diberikan deskripsi/hal yang sedang dikerjakan atau sejenisnya.

“Number one: Do you know why books such as this are so important? Because they have quality. And what does the word quality mean? To me it means texture. This book has pores. It has features. This book can go under the microscope. You’d find life under the glass, streaming past in infinite profusion. The more pores, the more truthfully recorded details of life per square inch you can get on a sheet of paper, the more `literary’ you are. That’s my definition, anyway. Telling detail. Fresh detail. The good writers touch life often. The mediocre ones run a quick hand over her. The bad ones rape her and leave her for the flies.”

“So now do you see why books are hated and feared? They show the pores in the face of life. The comfortable people want only wax moon faces, poreless, hairless, expressionless. We are living in a time when flowers are trying to live on flowers, instead of growing on good rain and black loam. Even fireworks, for all their prettiness, come from the chemistry of the earth. Yet somehow we think we can grow, feeding on flowers and fireworks, without completing the cycle back to reality. Do you know the legend of Hercules and Antaeus, the giant wrestler, whose strength was incredible so long as he stood firmly on the earth. But when he was held, rootless, in mid-air, by Hercules, he perished easily. If there isn’t something in that legend for us today, in this city, in our time, then I am completely insane. Well, there we have the first thing I said we needed. Quality, texture of information.”

“And the second?”

“Leisure.”

“Oh, but we’ve plenty of off-hours.”

“Off-hours, yes. But time to think? If you’re not driving a hundred miles an hour, at a clip where you can’t think of anything else but the danger, then you’re playing some game or sitting in some room where you can’t argue with the fourwall televisor. Why? The televisor is ‘real.’ It is immediate, it has dimension. It tells you what to think and blasts it in. It must be, right. It seems so right. It rushes you on so quickly to its own conclusions your mind hasn’t time to protest,

“Only if the third necessary thing could be given us. Number one, as I said, quality of information. Number two: leisure to digest it. And number three: the right to carry out actions based on what we learn from the inter-action of the first two. And I hardly think a very old man and a fireman turned sour could do much this late in the game…”

Penggalan dialog dari buku tersebut. Yang dijadikan alasan untuk mempertahankan keberadaan buku dan menentang hukum yang berlaku saat itu. Sebuah buku dari pandangan seorang penulis secara tidak langsung. (penggalannya terlalu panjang ya :P)

Dalam buku ini juga termuat stanza keempat dan terakhir dari puisi Dover Beach karya Matthew Arnold  (berikut saya sertakan link penjelasan berkenaan dengan stanza tersebut)

The Sea of Faith
Was once, too, at the full, and round earth’s shore
Lay like the folds of a bright girdle furled.
But now I only hear
Its melancholy, long, withdrawing roar,
Retreating, to the breath
Of the night-wind, down the vast edges drear
And naked shingles of the world.

Ah, love, let us be true
To one another! for the world, which seems
To lie before us like a land of dreams,
So various, so beautiful, so new,
Hath really neither joy, nor love, nor light,
Nor certitude, nor peace, nor help for pain;
And we are here as on a darkling plain
Swept with confused alarms of struggle and flight,
Where ignorant armies clash by night.

http://www.shmoop.com/dover-beach/summary.html

http://genius.com/Matthew-arnold-dover-beach-annotated/


Fahrenheit 451 adalah sebuah novel distopia yang ditulis oleh Ray Bradbury dan dipublikasikan pada tahun 1953. Novel ini dianggap sebagai salah satu karya terbaiknya, yang bercerita tentang Kehidupan masa depan di Amerika, dimana buku adalah sebuah pelanggaran hukum dan firemen akan membakar semua yang dapat mereka temukan. Judulnya sendiri mengacu pada temperatur yang diyakini oleh penulis sebagai suhu dimana kertas dapat terbakar dengan sendirinya.

Pada kasus ini saya tetap menggunakan kata firemen yang mempunyai dua arti baik sebagai pemadam api (atau yang lebih dikenal dengan nama fire fighter) atau penyulut api (atau yang lebih dikenal dengan nama arsonist). Ada pendapat lain mengatakan bahwa firemen adalah orang yang berhubungan dengan api seperti boiler/stoker (anggap saja orang yang memasukkan kayu/ batu bara ke tungku api untuk menjaga kehangatan udara atau bisa juga orang yang memasukkan batu bara pada kereta api uap supaya tidak padam).

Referensi:

https://en.wikipedia.org/wiki/Fahrenheit_451

https://en.wikipedia.org/wiki/Ray_Bradbury

Advertisements

City of Fallen Angels, City of Lost Souls, City of Heavenly Fire (The Mortal Instruments #4, #5, #6)

11356524_644454178988798_1221806819_n

Hahahaha…..hahahaha…… #gubrak

Maaf, otak saya sedikit berasap. #plakk

Kali ini saya bermaksud untuk corat-coret untuk tiga buku sekaligus. City of Fallen Angels, City of Lost Souls dan City of Heavenly Fire, tiga buku terakhir dari seri The Mortal Instruments.

Jujur, saya bingung. Apakah saya akan menulis cerita singkat buku berkaitan atau menulis pendapat saya langsung. Dan…. saya akan menuliskan langsung saja karena tidak ingin mengurangi keasyikan bagi yang belum membaca seri ini.

City of Fallen Angels
Seru! Melanjutkan cerita yang ditinggalkan setelah pertempuran pertama yang diakhiri dengan kematian Sebastian. Masih seputar kehidupan dan kisah percintaan seputar Clary dan Jace. Pertarungan dengan Lilith yang menuntut hak sebagai akibat akan apa yang dilakukan Clary terhadap Jace pada buku sebelumnya.

City of Lost Souls
Buku ini merupakan buku yang paling membosankan untuk seri ini. Lebih dari setengah bukunya sendiri pun membuat saya bosan dan hampir membuat saya melemparkan buku ini (hanya pura-pura). Untung saja, bagian akhirnya ditutup dengan cerita yang mendebarkan dan seperti menjadi gerbang pembuka buku keenamnya. Sayang meski begitu tidak cukup untuk membuat saya senang karena hampir seperti membuat saya sia-sia menghabiskan waktu untuk membaca beberapa bagian buku ini.

City of Heavenly Fire
Setelah menahan diri cukup lama (melupakan lebih tepatnya) sejak penerbitan buku ini di Indonesia. Akhirnya saya berhasil membaca buku ini. Ukuran font yang tidak bisa dibilang besar yang dipakai pada buku ini, ternyata tidak mengurangi petualangan saya karena ceritanya yang sangat menarik sedari awal. Atmosfer buku yang sangat kental dicampur aduk dengan permainan emosi yang Cassie torehkan. Begitu banyak aksi dan informasi baru mengenai dunia pemburu bayangan dalam buku ini. Koneksi yang dibangun dengan The Infernal Devices yang merupakan bumbu tersendiri dan salah satu daya pikat lain seri ini (but I want more). Bahkan sampai halaman terakhir rasa bersemangat dan efek dari buku ini masih terasa, meskipun ada beberapa hal yang dibiarkan tetap menjadi misteri. Bertahan selama berjam-jam untuk menyelesaikan buku ini terbayar sudah melepas kekecewaan saya terhadap buku sebelumnya. Dan dengan ending yang seperti itu, you got me! #halah #sokinggris

Seperti yang sudah-sudah pendapat saya tentang tulisan Cassandra Clare tidak berubah. Well-written, well-executed, ringan untuk dibaca dan ada hal menarik di setiap kata-katanya yang menyihir dan membuat saya betah untuk menyelesaikannya.

Okay, that’s all. I’m definitely lost in words to describe it.

Berikutnya Kau yang Mati

11333718_1640654139490071_1210030660_n

it’s not a coincidence. It’s the path they have to walk with.

Yup. Lokal. Karya anak negeri. Dan jangan heran. Saya mendapatkan buku ini melalui Giveaway Goodreads.

Mereka tidak mengenal satu sama lain, akan tetapi mereka mati di saat yang berdekatan. Sebuah kejadian yang janggal apabila disebut sebagai sebuah kebetulan, sebuah kebetulan yang mengerikan. (cukup itu saja yang bisa saya tuliskan)

Sebuah buku bergenre horor yang menceritakan tentang kehidupan enam orang yang berbeda, berjauhan meski bisa dibilang masih dalam satu ruang lingkup daerah yang sama. Kehidupan ke-enam orang itulah yang yang diangkat dan dijadikan bahan cerita pada buku ini. Ide untuk menghubungkan cerita mereka saya sadari ketika saya mulai membaca cerita kedua dan yang ada dalam pikiran saya, “oke, ini menarik”.

Sebenarnya cerita ini ditulis dengan runtut, tapi berdasarkan eksekusinya sedikit kurang menurut saya.

  1. Penggunaan kata banyolan dalam bahasa jawa yang diselipkan dalam beberapa cerita. Mengingat latar belakang tempat sebagian kisah ini terjadi di Purwokerto pada awalnya sedikit aneh ketika mendapatkan dialog dalam bahasa Indonesia karena, Ya, kebanyakan dari mereka berbahasa jawa (dalam kesehariannya sekalipun) yang sangat tidak mungkin dituliskan dalam sebuah novel untuk pangsa pasar nasional. Acceptable. Sampai pada saat saya menemukan banyolan tersebut yang ditulis dalam bahasa Jawa.
  2. Adanya kata-kata serapan (adaptasi maupun adopsi). Menggambarkan tingkat kecerdasan karakter yang ada, Iya. Tapi sebagai pembaca saya sedikit merasa aneh saja. Asumsi, visualisasi adalah beberapa kata yang saya baca. Sedikit tidak nyaman apabila digunakan dalam kalimat dan disandingkan untuk menceritakan/ berdialog padahal ada kata yang bisa mewakili seperti anggap dan gambaran.
  3. Karena penulis menggunakan konsep cerita terpisah, yang terdapat penghubung diantaranya, maka sudah sewajarnyalah ketelitian sangat dibutuhkan (bukan dalam konsep seperti ini saja sebenarnya. Tapi novel biasapun seharusnya juga karena kita tidak mungkin menyebutkan dua fakta yang berbeda untuk hal yang sama). Saya menjumpai bahwa penulis kecolongan (meski hanya satu tempat yang saya temukan) yaitu pada hal. 39 “Kayaknya masih lumayan jauh, deh. Dengan kecepatan normal mungkin tiga atau empat jam kita baru bisa sampai di Dieng.” dan pada hal. 66 “Masih lumayan jauh kayaknya deh. Dengan kecepatan normal mungkin tiga atau empat jam kita baru bisa sampai di Dieng.
  4. Pada salah satu cerita penulis menggunakan kata “…. hari H” yang menurut saya agak aneh. Mungkin perlu mencari padanan kata yang lain. Karena penggunaan kata tersebut dalam cerita ini sedikit melemahkan faktor misteri karena kita akan tahu sesuatu akan terjadi. Apalagi dengan pola yang sudah ketahuan bahwa cerita setelahnya berkaitan dengan cerita sebelumnya.

Secara garis besar buku ini berhasil bercerita dengan baik. Beralur cepat tapi tidak terasa dipadatkan, tidak terasa diburu oleh jumlah halaman yang sedikit. Menarik untuk dibaca sampai selesai. Is it scary? Don’t think so. I’ve seen worse. Tapi meski begitu, buat yang takut dengan cerita horor, kadar buku ini masih dalam taraf ‘aman’ untuk dibaca. J