The Last Dragonslayer (Chronicles of Kazam #1)

11349354_486110211549424_895027724_n“Jangan biarkan seseorang memberitahumu bahwa masa depan sudah tertulis. Tergantung kita untuk menerima masa depan begitu saja atau mengubahnya.”

Dahulu kala, para penyihir adalah kalangan terhormat yang melakukan hal-hal hebat seperti menyelamatkan kerajaan dari serangan Naga. Namun, di masa modern, orang tak lagi butuh sihir. Penyihir terpaksa melakukan pekerjaan remeh seperti membersihkan saluran air tersumbat atau mengantar piza dengan karpet terbang demi bertahan hidup.

Jennifer Strange, anak magang di sebuah agensi penyihir yang nyaris bangkrut, suatu hari menerima sebuah ramalan besar. Menurut ramalan itu, Naga terakhir di dunia akan tewas di tangan Pembantai Naga. Jennifer yakin bahwa Naga berkaitan erat dengan keberadaan sihir, jadi jika Naga terakhir tewas, mungkinkah seluruh sihir di dunia akan lenyap? Bertekad menghentikan ramalan ini, Jennifer melacak keberadaan sang Pembantai Naga, dan harus berhadapan dengan antek-antek raja yang menginginkan kematian sang Naga.

Paperback: 268 halaman
Publisher: 1 Oktober 2015 oleh Mizan Fantasi ( (pertama kali terbit 1 Januari 2010)
Original Title: The Last Dragonslayer
Language: Bahasa Indonesia
ISBN-10:
ISBN-13: 978-9794339046

Series: Chronicles of Kazam #1


Jennifer Strange, Seorang anak magang dengan dua huruf ‘n’ berusaha untuk mempertahankan agensi dimana dia bekerja. Seorang anak perempuan yang kemudaan untuk tugas yang diembannya. Tidak hanya satu dua orang yang meragukan kemampuannya dalam mencari Pembantai Naga terakhir, menguasai Tanah Naga yang selama ini dilindungi dalam Perjanjian Naga yang menjadi rebutan banyak pihak,

Pencarian Jennifer Strange berlanjut. Dari pintu ke pintu guna menemukan petunjuk siapakah Pembantai Naga terakhir yang berhak memasuki tanah naga dan keluar hidup-hidup. Karena selain Pembantai Naga atau anak magangnya semua orang yang memasuki Tanah Naga akan mati.  Akhirnya titik terang dia temukan, keberadaan Pembantai Naga terakhir ternyata tidak jauh dari dirinya.

Dengan memperjuangkan pemikiran yang berbeda dengan kebanyakan orang dia mencari cara untuk mengakhiri konflik antara naga dan manusia dengan damai. Dan nagalah yang memberikan kekuatan pada sihir menjadi pertimbangannya untuk melaksanakan tugasnya.


Jennifer Strange bukanlah saudara jauh dari Doctor Strange atau cucu dari Jonathan Strange. Dia hanyalah anak telantar yang mempunyai pemikirannya sendiri. Dengan sedikit keras kepala, berakal cerdas dan dia mempunyai caranya sendiri untuk menyelesaikan masalah. Ditulis dengan gaya bercerita penuh dengan sarkasme yang membuat saya tertawa,  tersenyum karena tidak jauh dari kebiasaan sepele ‘mempermasalahkan kalimat sepele dan membuatnya seolah menjadi masalah besar’.

Pemberian nama pada karakter yang sedikit nyeleneh menjadi poin tambah buat penyuka serial dengan genre seperti ini, sebut saja Moobin, Quarkbeast (yang tidak terlalu jelas dia itu apa), Tiger Prawns dan Zenobia sebagian dari karakter yang ‘memenangkan’ nama aneh tersebut. Sayang, karena hal tersebut pula sebagaian orang mungkin akan berpendapat bahwa buku ini tidak digarap dengan serius.

Meski begitu, buku ini sebenarnya mempunyai nilai moral tersendiri. Misal pada satu bagian narasi di awal buku, Jennifer bercerita

Aku yang mengemudi, mungkin di wilayah lain ini aneh, tapi tidak demikian di Kerajaan Hereford ini, yang memang aneh sendiri di antara negara Inggris Tidak-Raya lainnya. karena ujian mengemudinya berdasarkan kedewasaan, bukan usia.

Disini penulis melakukan kritik sosial terhadap orang-orang dengan jelas yaitu Surat Izin Mengemudi (SIM) diberikan kepada orang dengan tingkat kedewasaan yang sudah memenuhi standar bukan dengan bilangan umur mereka. Saya sendiri banyak mendapati bahwa orang-orang di dunia ini yang mempunyai SIM tapi belum memenuhi tingkat kedewasaan yang dibutuhkan. Parkir, sampah, tata tertib berlalu lintas dan segala tetek bengek yang dianggap sepele bagi orang tersebut,

Selain itu penulis juga memberikan kesan bahwa dia tidak puas dengan keadaan negaranya tersebut dengan menggunakan kata Inggris Tidak-Raya, atau mungkin saya yang terlalu berspekulasi terlalu berlebihan.

Menilik masalah terjemahan, sedikit banyak menangkap esensi candaan yang termuat didalam kata-kata yang ada di ceritanya, karena di negara asli penulis, mereka lebih suka bermain komedi dengan berkata-kata dibanding dengan tingkah laku (seperti di negara kita). Guyonan segar yang terkandung dalam kalimat yang bertebaran di buku ini ditulis dengan sangat menarik, tidak menghilang dari inti cerita tapi tidak membuat kening berkerut saat membaca ceritanya.

Ada dua kata di buku ini yang sebenarnya tidak salah, tapi sedikit aneh untuk diterima karena jarang dipakai yaitu adanya kata ‘lungsuran’ dan ‘kemudaan’ (yang saya sengaja gunakan diatas).

lungsur 2/lung·sur /Jw v,lungsuran/lung·sur·an/n pakaian bekas (barang lama dan sebagainya)

kemudaan /ke·mu·da·an /1n perihal muda; 2a keadaan berusia muda: – selalu mempunyai daya tarik yang ajaib;3a cak terlalu muda: mereka nikah – sehingga rumah tangganya berantakan;

Berdasarkan selera saya lebih memilih pakaian bekas, dan terlalu muda. 😀 Terlepas dari itu semua, dalam buku ini suasana London dan Inggris Tidak-Raya hadir dengan suasana yang lebih segar. Cover yang dibuat sedikit kasar pada bagian sisik naga, Taksi warna kuning dan Big Ben yang mewarnai latar sampul memperkuat nuansa dimana cerita berasal tanpa perlu membuka isi bukunya :P.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s