“Oleh-oleh” dari BBW 2016

 

loading-wolf3Hahahaha…. pertama kali nih.. bikin post yang ga ada hubungannya dengan review buku…

Meskipun masih ada hubungannya dengan buku juga sih. Kali ini mau ngomongin hasil “rampokan” dari Big Bad Wolf atau yang lebih dikenal dengan singkatannya BBW yang diadakan akhir bulan lalu sampai dengan awal bulan ini.

Kenapa baru bikin post-nya sekarang..hehehe… semua karena beberapa buku baru datang ke alamat saya. πŸ˜€

Meskipun saya sendiri nggak berhasil datang kesana. beruntunglah ada ibu-ibu peri tak bersayap tak bertongkat sihir yang naik uber dan KRL menempuh lautan massa, yang bersedia saya repotkan. Makasih banyak buat Ren Puspita dan Cypress Ruby.

IMG_20160525_085115

Private: India, Invisible dan Private: Down Under

Titipan yang didapat Ren waktu itu, beruntung berdasar wishlist yang sudah aku buat sebelumnya, aku pikirkan matang-matang setengah gosong, sambil bertapa dan memilah mana yang saya butuhkan lebih dulu dan yang bisa dibeli lain kali. Tapi, alhasil mendapatkan judul buku yang sedikit, wishlist saya pun ternyata sama panjangnya dengan yang sebelumnya alias tidak ada gunanya. hahaha…

James Patterson adalah penulis yang berada dalam wishlist tetap saya. Makanya, saat dikabari bahwa ada dua buku (Private: India dan Private: Down Under) yang dipamerkan (dan dijual tentu saja) makanya tanpa pikir panjang (meski pada kenyataannya impulse neuron menempuh perjalanan panjang) untuk mengatakan iya. Invisible juga kebetulan muncul di foto yang dikirimkan dan langsung semangat untuk berkata iya. :))

IMG_20160525_090318

The Watersong #3: Tidal dan #4: Elegy

Buku selanjutnya adalah Tidal dan Elegy karya Amanda Hocking. Buku yang berkisah tentang kehidupan Syren (bukan Si Ren). Memasukkan buku ini ke wishlist adalah sebuah keterpaksaan. Saya mendapatkan buku #1 Wake dan #2 Lullaby dengan harga yang lebih murah. Hasil berbelanja di Peri+ di bagian bargain book #tetep. karena buku satu dan dua dari seri The Watersong ini sudah ditangan, maka saya putuskan untuk mencoba peruntungan dengan memasukkan buku lanjutannya di wishlist saya. Tanpa harapan sama sekali, dan ketika ada kabar bahwa buku tersebut ada. Cerahlah hari saya, tidak perlu lagi berburu lagi dari website ke website (karena mustahil mendapatkan buku ini di toko buku yang ada di kotaku tertjintah).

Oke… lanjut!! >.<

Buku selanjutnya..

Sand karya Hugh Howey. Buku, seperti halnya Wool yang merupakan omnibus dan sudah diterbitkan di Indonesia, entah untuk buku akan diterbitkan atau tidak. Saya sendiri tidak menyadari adanya buku ini ada di tumpukan foto yang diambil dan dikirim Cypress Ruby saat berada di TKP, saat itulah (drum roll please….) Mas Puji datang bercelana boxer dengan cilok dan kopinya, menyelamatkan keadaan dan saya pun memutuskan untuk turut membelinya juga. πŸ˜€

Unsouled karya Neil Shusterman. Buku ketiga dari seri Unwind. Buku yang nggak terbersit untuk dibeli. Niat itu muncul ketika foto itu muncul. Kebetulan Unwind sendiri sudah dibaca sejak beberapa tahun yang lalu..tahun yang lalu… tahun yang lalu… (echo) dan Unwholly yang baru terbit beberapa minggu yang lalu…minggu yang lalu…minggu yang lalu…(masih dengan efek echo) yang bahkan belum tersentuh….dan entah Undivided kapan munculnya…(atau semua itu imaji semata).

The Creeps (Samuel Johnson vs. The Devils #3). Ini Racun!! Racun yang ditebarkan para penghuni group…hahahaha…sebenarnya buku satupun masih dalam kondisi segel. Seperti baru, buku kedua dapat murah di bargain booknya Peri+ meskipun versi yang berbeda (dan judul yang berbeda, Hell’s Bell) dan karena itulah saya meminta tolong untuk memasukkan buku ini ke keranjang belanjaan.

Starring Tracy Beaker dan Biscuit Barrel, Jacqualine Wilson. Tentu saja, seperti buku lainnya untuk menambah koleksi Jacqualine Wilson saya yang entah sudah dapat berapa banyak (atau dobel) karena dia salah satu penulis yang bukunya saya kumpulkan tapi belum sempat untuk mendata. πŸ˜€ Waktu itu ada boxsetnya juga yang berisi sekitar 10 judul. Tapi karena beberapa judul sudah diterjemahkan dan sudah punya, makanya saya beli yang lepasan saja. (Alasan sempurna untuk berbohong dan berkata kalau duit sudah mepet)

IMG_20160525_084010

Fantasy & Science Fiction, Volume Two.

Pertama kali lihat, di timeline Mbak Truly yang LPM hasil jarahannya ketika datang kesana.

Sambil menyikat dan mengepel lantai yang banjir dengan iler berkepanjangan, saya pun memasukkan buku ini ke daftar titipan meski hanya satu nama yang saya kenal disana, Stephen King, mudah-mudahan buku ini tidak meracuni saya untuk membaca karya penulis lainnya yang ada disini. Sayangnya, hanya ada buku keduanya. Semua sesuai dengan takdir Tuhan. Mungkin saya belum berjodoh dengan buku pertamanya.

This slideshow requires JavaScript.

The First Dragon karya James A. Owen. Buku yang katanya tinggal satu ini masuk ke dalam wishlist abadi saya. Buku pertamanya sendiri sudah terbit di Indonesia. Here, There Be DragonsΒ  diterbitkan oleh Penerbit Matahati sebelum mereka meninggalkan dunia penerbitan Indonesia. The First Dragon merupakan buku ke-tujuh dalam seri The Chronicles of Imaginarium Geographica, dan merupakan buku pamungkas seri tersebut. Selain buku ini, kebetulan saya juga mempunyai buku #3 The Indigo King dan The Shadow Dragons #4 yang saya beli di Yusuf Agency, Yogyakarta seharga Rp30.000,- per buku. Used, but worthed it. Dan dengan semua itu pencarian saya masih berlanjut untuk mendapatkan 3 buku lainnya #2 The Search for the Red Dragon, #5 The Dragon’s Apprentice, dan #6 The Dragons of Winter. Oleh karena itu, doakan saya yaaa….. (a la pemain Benten Takeshi)

Michael Vey karya Richard Paul Evans. Satu buku yang berisi dua volume sekaligus, The Prisoner of Cell 25 (#1) dan Rise of the Elgen (#2). Siapa yang bisa menolak dua buku dengan satu harga, atau setidaknya bukan saya πŸ™‚ Berkisah tentang seorang anak pengidap Tourette’s syndrome yang ternyata memiliki kekuatan yang luar biasa.

The Bane Chronicles adalah buku yang masuk mendadak di wishlist saya. Kebetulan saya mempunyai TMI dan TID, dan sebagai salah satu penggemar seri ini. Kurang lengkap rasanya kalau tidak membeli buku ini, buku yang masuk ke Indonesia dengan harga yang lebih murah dari buku terjemahan sekarang ini. Sebelumnya tidak terpikir untuk membeli buku ini, dan bahkan tidak tahu. Tapi sifat kepo-akut saya yang suka menjelajahi tautan referensi yang ada di sebuah halaman, dari website BBW akhirnya membawa saya ke website sponsor event ini yang notabene adalah toko buku online yang berada di Malaysia sana dan menemukan buku ini terpampang disana bersama-sama dengan First Dragon dan Michael Vey di atas.

The Song of the Quarkbeast karya Jasper Fforde. Buku pertamanya sendiri sudah diterbitkan di Indonesia dan kebetulan saya suka sama ceritanya yang ringan dan beberapa nilai moral yang ditanamkan. Tetapi saat saya bertanya kapan buku selanjutnya dan mendapat jawaban “diamati” saat itulah saya berjanji pada diri saya sendiri akan mencari buku selanjutnya. XD

The Gift karya James Patterson. Alasannya sederhana, di rak buku saya yang ada massproduct dan yang ini kebetulan hardcopy. sesederhana itu alasan saya untuk membeli buku dari penulis favorit saya.

The Well of Ascension (Mistborn #2), The Hero of Ages (Mistborn #3) dan A Memory of Light (The Wheel of Time #14) merupakan tiga karya yang ditulis oleh Brandon Sanderson. Istri mendiang penulis The Wheel of Time,Β Harriet McDougal sekaligus editornya dan Tom Doherty, menunjuk Brandon Sanderson (Penulis Elantris dan Mistborn) melalui TOR untuk melanjutkan kisah yang ditulis oleh Robert Jordan yang meninggal pada saat penulisan buku kedua belas seri ini sekaligus buku terakhir. Akan Tetapi, dengan material yang ditinggalkan oleh Robert Jordan akhirnya mereka memutuskan untuk membagi tiga cerita tersebut dan kesemuanya akan diberi judul yang sama, A Memory of Light. Kemudian rencana itupun dibatalkan dan mereka memutuskan untuk memberikan judul yang berbeda untuk tiga buku terakhirnya, yaitu: The Gathering Storm (terbit 27 Oktober 2009), Towers of Midnight (terbit 2 November 2010), and A Memory of Light (terbit 8 Januari 2013).

Mistborn sendiri sebenarnya trilogi dari trilogi. Trilogi Pertama yaitu The Final Empire, The Well of Ascension dan The Ages of Hero. Seri Wax and Wayne sendiri merupakan kisah transisi dari trilogi pertama ke trilogi kedua. Berikut kutipan dari wikipedia (dalam bahasa inggris)

The original trilogy is the first in what Sanderson calls a “trilogy of trilogies.” The original second trilogy was to be set in an urban setting, featuring modern technology, and the third trilogy was to be a science fiction series, set in the far future. Mistborn: The Alloy of Law was set to be a transitional book between the original trilogy and the second trilogy. However, it turned into a fourth series, this time of four books. Sanderson’s announcement on August 1, 2012 to write a sequel to Mistborn: The Alloy of Law, titled Mistborn: Shadows of Self, published October 6, 2015, meant Mistborn: The Alloy of Law would not stay a stand-alone novel. However, the series will not take the place of the originally-planned second Mistborn trilogy, but will instead become a spinoff series, with a third book confirmed as Mistborn: The Bands of Mourning and the fourth book under the working title of Mistborn: The Lost Metal.

There is not a scheduled release date for the contemporary trilogy or the science fiction trilogy.

Β (Aoyama Gosho dapat saingan sepertinya)

Lanjut lagiiiiii……………………….

Henderson’s Boys: One Shot Kill, Secret Army dan Grey Wolves karya Robert Muchamore. Buku yang saya titip dadakan ketika melihat judul tersebut dari foto yang dikirim. Buku yang akan saya gunakan untuk menemani The Escape dari seri yang sama, yang lagi-lagi saya beli di bargain book-nya Peri+. Lumayan bisa mencoret tiga dari enam judul yang kurang.

Artemis Fowl and the Last Guardian karya Eoin Colfer. No Reason. Karena penerbit yang menerbitkan seri ini di Indonesia tidak jelas apakah akan meneruskan seri ini atau tidak. Semua masih dalam terawangan, sepertinya.

Earthfall karya Mark Walden. Ini Racun!!! Salahkan Cypress Ruby yang dengan sengaja memamerkan buku ini kepada saya dan dengan sengaja membawanya dengan caption “bawa sajalah siapa tahu berubah pikiran” kata suara hatinya. Buku Mark Walden sendiri yang sudah terbit di Indonesia adalah H.I.V.E. #1-#3. Buku yang berhasil membuat saya terkatung-katung. Baik dari segi cerita dan dari segi harapan saya sebagai pembaca yang terpesona dengan ceritanya. Karena alasan itulah dan informasi dari Goodreads bahwa buku ini buku pertama. Akhirnya racun itu berhasil menginduksi otak saya untuk menyerah kalah. Untuk buku keduanya sendiri sudah terbit dengan judul Retribution pada tahun 2014 dan buku ketiganya yang diharapkan akan terbit pada tahun 2017

Speaker of the Dead, Children of the Mind dan Xenocide karya Orson Scott Card. Jujur, pada waktu IBF kemarin saya melihat Rifda Jilan Sy dan Gita Savitri Putri ‘memberitahukan’ bahwa mereka membeli buku ini, saya agak sedikit iri XD (Tidak pernah bilang sama mereka..dan disini saya tulis). Buku yang merupakan kelanjutan dari Ender’s Game yang sudah dibuat filmnya dan membuat saya penasaran akan kelanjutan kisah perjalanan Ender, meskipun hasil ‘penggalian’ ilegal membuat saya memiliki ebook dan audiobook-nya, dan sampai sekarang belum saya jamah karena saya tetap lebih memilih untuk memegang buku secara langsung.

Alex Rider series karya Anthony Horowitz yang terdiri dari:

Seri ini sudah lama menjadi incaran. Kebetulan di BookBos sebuah penjual buku bekas yang menitipkan bukunya di beberapa tempat. Saya sering menjumpai seri ini, saya pegang dan saya kumpulkan, meskipun pada akhirnya saya kembalikan karena yang ada dalam benak saya bahwa akan sulit untuk melengkapi seri ini. Tampak seperti hal yang mustahil kan? Saya mengembalikan buku yang sudah dipegang, dikumpulkan (waktu itu hanya ada 4 judul) dan kemudian dikembalikan lagi ketempatnya XD. Tapi, beruntunglah saya, tak disangka saya menemukan buku ini di BBW. Kala itu, kurang buku #1, #4 dan #9. Sedikit sedih karena nasibnya bakalan sama saja, yaitu mencari sisanya di toko buku. Apalagi kali pertama saya dikirimi foto titipan tampak punggung bukunya yang membentuk judul seri ini, kalau saya salah beli versi buku ini. sudah pasti hal itu hanyalah mimpi. Tak disangka Si Adik mengajaknya balik ke BBW untuk beli buku (yang ternyata malah tidak ada) dan di waktu itulah Peri tak bersayap tak bertongkat tapi berkartu kredit itu menemukan tiga buku lainnya……dan buku lainnya juga. Saya terharu… Terima kasih, Mamak.


Oke…saya sudah lama jadi tukang titip ke orang lain, dan beruntung pada masih baik sama saya πŸ˜€

Menitippun buat saya pribadi ada etikanya buat saya. (Mereka = yang dititipi)

  1. Jangan pernah memaksa mereka mencarikan buku yang kamu mau dan HARUS dapat hanya karena kamu melihat buku itu di foto yang tersebar ditempat lain.
  2. Jangan sampai membuat mereka balik, ketempat yang terlewat dan mengambilkan buku tersebut. Kalo eventnya skala kecil sih ga papa (kayaknya), jangan menyuruh tapi bertanyalah apakah mereka yang di TKP akan balik ke tempat tadi. kalo mereka ‘iya’, baru boleh bilang apa maksudmu. Tapi kalo mereka bilang ‘tidak’, itu nasib kita kawan. Jangan dipaksa mereka harus balik, emangnya kita ini siapa… kita itu cuman orang yang kebetulan tidak bisa datang/ malas bagi sebagian orang yang meminta tolong pada orang lain. Kalau ditolak ya, terima aja.
  3. SEGERA BAYAR. Meskipun ga ditagih sekalipun, kalo perlu bayar dimuka (jangan di muka beneran tapi). Mereka bukan tempat pinjam meminjam uang, meskipun bilang nanti pun, kita sendiri harus tanya bisa dibayar kapan tapi jangan sampai mengganggu mereka dengan tanyain totalan tiap jam tiap waktu. Kalian bukan debt collector.
  4. Setelah bayarpun, mereka jangan dicecar dengen pertanyaan “Kapan kirim?”, ” Udah dibungkus belum?” dll. apalagi kalo intensitasnya ngalahin orang bernafas. Kalian kira mereka itu ga punya urusan apa. Cuman ngurusin titipan kita. Mereka juga butuh refreshing, butuh kerja, menghibur diri, makan dll. Jangan kebangetan deh…udah syukur mereka mau dititipin. Untuk ini saya butuh kaca kayaknya. Dari yang dijanjiin akhir bulan ini atau awal bulan depan akhirnya dikirim Jumat (20062016) kemaren hanya karena ga sabar nyusun Alex Rdernya.. dari yang mau dikirim separo akhirnya dikirim semua sekaligus…wahahaha….
  5. Kalo nitip kira-kira, ya. Jangan kayak saya. Nitipnya sampai kurang ajar…syukur deh titipan saya 11-12 dengan yang saya titipi , jadi nggak terlalu malu. Coba kalo ternyata mereka kesana cuman buat nyariin titipan kita. Eh, tapi ada ding…hahaha..aku sendiri sudah seneng hanya dengan beli buku meski bukan buat sendiri. XD
  6. Fokus, tentukan tujuan. lagi-lagi… jangan seperti saya— yang tergoda dengan setiap ada foto muncul. Sampai-sampai malu sendiri mau bilang ‘nitip itu’, ‘yang itu masukin keranjang ya’, ‘ mau dong satu’, dll.

Gitu dulu… abaikan typo, besok dicek ulag dan dipercantik sana sini meski ga ada yang baca.

Advertisements

The Immortals of Meluha

image

The Immortals of Meluha by Amish Tripathi

Translator: Nur Aini
Editor: Agus Hadiyono
Paperback: 586 pages
Published: June 2013 by Mizan Fantasi
Original title: The Immortals of Meluha
ISBN13: 9789794337387
Language: Indonesian
Series: Shiva Trilogy #1
Setting: Meluha, Lembah Indus

Sebuah cerita tentang legenda manusia yang akan membawa perubahan, kebenaran dan kemenangan di dunia Meluha. Cerita perjalanan menuju sebuah kesejahteraan dan kedamaian sejati.

Suryavanshi dan Chandravanshi adalah dua kelompok yang bertempat tinggal di tempat yang berbeda dan mempunyai pedoman hidup yang berbeda. Bersinggungan satu sama lain dengan prinsip hidup masing-masing yang saling bertolak belakang sehingga menimbulkan perpecahan dalam dunia Meluha.

Akan tetapi ada sebuah legenda kuno yang mengatakan bahwa β€œketika kejahatan mencapai puncaknya, dan semua tampak telah hilang, saat musuhmu terlihat telah mencapai titik kemenangannya, seorang pahlawan akan muncul.”

Shiva, sosok manusia biasa yang menjalani kehidupan dengan sederhana dalam kesehariannya sampai suatu ketika muncul tanda bahwa dia-lah yang disebut dalam legenda tersebut. Tapi, apakah dia benar-benar manusia yang disebut-sebut dalam legenda itu? Apakah dia bisa menjalankan tugas barunya sebagai pahlawan yang ditunggu-tunggu? Apakah legenda itu akan menjadi kenyataan? Apakah dia berhasil membawa suryavanshi ke gerbang kemenangan dan mencapai puncak kejayaan? Apakah dia akan berhasil membawa perubahan? atau malah kehancuran?


Sebuah buku yang menarik, menggabungkan antara fakta dan fantasi penulisnya karena mengambil penokohan yang sangat jarang digunakan yaitu dewa dalam kehidupan India (lebih tepatnya agama Hindu) dengan setting tempat di Meluhha (yang terletak di India Barat dan Pakistan) dengan latar belakang peradaban Lembah Indus lengkap dengan Sungai Sarasvati kuno yang pernah mengalir disana. Dan tentu saja karena disanalah dipercaya sebagai tempat akar dari agama Hindu.

Karakter utama yang dihidupkan oleh penulis dalam buku inipun sangat kuat dan menonjol. Shiva misalnya, seorang yang bijak (dan tidak bisa dibilang muda), penuh dengan filosofi hidup, dengan pemikirannya yang bebas dari aturan yang ada dan berlaku kemanapun dia pergi (yang menurut saya cenderung suka seenaknya sendiri – in a good way, of course). Meskipun ada pula beberapa karakter yang tidak diceritakan dengan jelas pula dikarenakan mereka hanya sebagai tokoh tambahan dalam cerita. Naga contohnya, manusia yang mempunyai keyakinannya sendiri dan melakukan perburuan manusia dengan kepala yang digunakan sebagai simbol kemenangan.

Akan tetapi, dikarenakan disini penulis mengambil seorang/ lebih tokoh dari salah satu agama, penulis terkesan sangat berhati-hati agar tidak melanggar batasan yang ada sehingga tidak menimbulkan konflik. Jadi, jangan heran kalau banyak tulisan yang berisi tentang hal baik (hampir keseluruhan). Jadi menurut saya, penulis seolah dikekang oleh keadaan dan tidak bisa berimajinasi secara luas.

Sebenarnya, konsep buku ini bisa dibilang membosankan karena sudah terlalu banyak buku dengan konsep cerita yang sama. Kisah perjalanan hidup seorang manusia biasa, yang kemudian mencapai puncak kedudukan dikarenakan kekuatan yang dimilikinya atau hal yang dia lakukan, kisah yang sangat sederhana dan umum. Karena sejauh yang saya tahu, semua kisah kepahlawanan memiliki konsep yang sama dan percaya atau tidak, saya teringat Cinderella (dengan sepatu kacanya yang tertinggal) saat membaca adegan Shiva mendapatkan tanda bahwa dialah yang dimaksud dalam legenda kuno yang ada di peradaban tersebut. Akan tetapi alur dan ceritanya-lah yang menjadi daya tarik utama buku ini untuk dibaca dan diikuti. Berbeda dengan yang kebanyakan ada di pasaran saat ini (vampire, penyihir, werewolf, supernatural-thing, zombie dsj).

Terlepas dari masalah diatas, penceritaan disusun rapi dan terstruktur dengan baik dikarenakan hanya menggunakan satu sudut pandang. Mempermudah pembaca untuk berimajinasi dan β€˜jatuh’ lebih dalam ke dunia yang ada. Bahasa ringan dan kata-kata sederhana (cenderung lembut tapi tegas dan entah apakah ini efek dari proses terjemahanan) yang digunakan dalam hal penarasian cerita maupun dialog juga turut andil dalam pembentukkan dunia dan atmosfer yang cukup kuat dalam buku ini. Banyaknya istilah Sansekerta pun tidak menghalangi untuk menikmati buku ini karena banyaknya kata-kata serapan dari bahasa tersebut yang kita gunakan dalam keseharian (setidaknya saya yang berasal dari Jawa). Tapi untuk mereka yang kurang mengertipun (ternyata) ada halaman glosarium di bagian belakang buku ini.

Salah satu nilai tambah adalah buku ini sarat dengan nilai-nilai moral yang hampir terlupakan di era modern dan di kala penulis lain berlomba-lomba untuk menulis cerita yang mengikuti minat pasar, buku ini berhasil ‘melenceng’ dari jalur yang ada dengan menyiratkan sebanyak mungkin pesan moral dalam ceritanya dan hal tersebut berhasil memikat (setidaknya) saya tanpa melupakan bahwa buku ini dibuat untuk dikomersilkan (dan lagi-lagi apakah ini dikarenakan takut merusak pencitraan tokoh utama dan menimbulkan konflik). Pesan moral disampaikan dengan bahasa yang apik dan dikiaskan sedemikian rupa sehingga kita tak menyadari bahwa kita telah membaca sebuah cerita yang penuh dengan bahan pembelajaran hidup.

Dan karena buku ini menggunakan budaya India pada umumnya dan Agama Hindu pada khususnya. Saya rasa, buku ini turut memperkenalkan apa saja yang ada disana dan apa yang terjadi disana. Sehingga tidak hanya cerita saja yang kita dapat akan tetapi sedikit adat yang ada seperti pengasingan anak (yang sekarangpun masih banyak terjadi – pembunuhan anak perempuan lebih tepatnya), tarian, adat istiadat yang menjadi akar masyarakat India (dan sekitarnya) di jaman sekarang, pengucilan orang-orang yang (dianggap) melakukan dosa.

Konflik yang terjadi adalah permasalahan yang sudah lama terjadi dan saya yakini menjadi alasan terjadinya perang dan perpecahan di dunia ini (bukan hanya dalam buku, akan tetapi di dunia nyata juga) yaitu karena adanya perbedaan pendapat dan kesemua pihak merasa bahwa merekalah yang benar (atau setidaknya mereka yakin bahwa mereka benar). Konflik yang dialami antara Suryavanshi dan Chandravanshi-pun (dan satu kelompok lagi yang belum banyak diceritakan – Naga) juga terjadi karena hal yang sama, dikarenakan cara pandang yang berbeda tentang hidup dan cara menjalankan kehidupan itu, setidaknya masalah itulah perbedaan yang sangat kental terlihat. Tapi entah permasalahan apa yang akan terjadi sebagai bahan tambahan penyemangat seri ini selain perjalanan Shiva itu sendiri, sampai saat ini belum terlalu jelas.

Untuk masalah pemilihan adegan pun cukup proporsional dan tidak terlalu memihak ke satu sisi sehingga tetap menjaga buku ini di alurnya berkenaan dengan perjalanan Shiva dalam mencari kebenaran dan memenuhi apa yang Suryavanshi (dan Chandravanshi) yakini bahwa dia adalah Sang Neelkanth. Adegan pembunuhan dalam peperangan yang sedikit sadis (menurut imajinasi saya pribadi), perayaan pernikahan, menari adalah sedikit dari contoh yang tergambar dengan jelas dalam pikiran saya. Entah itu murni karena buku ini atau karena ingatan saya akan kisah Mahabharata dan Ramayana yang saya ikuti saat masih kecil.

Untuk desain sampul (asli maupun terjemahan) saya rasa cukup adil karena meski digolongkan ke genre fiksi fantasi, buku ini terlalu kelam dan sedikit berat karena berkaitan dengan sejarah/ peristiwa/ kepercayaan/ agama dan ceritanya pun (buat saya) tidak sepenuhnya fantasi karena ada beberapa bagian yang benar adanya dan tidak dibuat-buat. Pemilihan warna yang cenderung gelap mendukung pencitraan buku dan trisula mempertegas siapa Shiva itu sebenarnya.


Saat pertama kali mengetahui bahwa buku ini berasal dari India saya merasa buku ini tidak termasuk dalam lingkup bacaan saya dan saya terlalu meremehkannya karena di pikiran saya dan dalam bayangan saya India terlalu identik dengan tarian, lagu, adegan lari-larian dalam hujan, polisi kesiangan, tuan tanah yang jahat dsj (efek terlalu banyak nonton film India – mungkin). Dan saya membeli hanya karena buku ini diterjemahkan oleh penerjemah favorit saya (alasan yang sulit diterima oleh akal kayaknya).

Buku ini juga memainkan emosi saya, membawa saya naik turun sembari menikmati cerita yang ada dan mengajarkan kepada saya, apa yang selama ini luput dari akal. Sebuah bahan instropeksi yang bagus untuk kehidupan bersosial.

Tulisan ini saya buat terlepas dari seberapa tuanya karakter (dan jujur saya tidak pernah memikirkan hal ini) dan hanya berdasar pemikiran saya dan apa yang saya baca.

Original Cover

The Immortals of Meluha on wiki
The Immortals of Meluha on GR
Amish’ Official Site (Meluha Author)
Amish on wiki (Meluha Author)

The Fault in our Stars

image

Paperback: 422 pages
Published: December 2012 oleh Qanita (first published January 1st 2012)
Original title: The Fault in Our Stars
ISBN13: 9786029225587
Bahasa: Indonesia
URL:Β  kaifa.mizan.com
Karakter:Β  Hazel Grace Lancaster, Augustus Waters
Setting:Β Indianapolis, Indiana (United States)
Literary awards
Odyssey Award (2013), ALA Teens’ Top Ten Nominee (2012), Indies Choice Book Award for Young Adult (2013), Deutscher Jugendliteraturpreis Nominee for Preis der Jugendjury (2013), Dioraphte Jongerenliteratuurprijs (2013) The Inky Awards for Silver Inky (2012), Abraham Lincoln Award Nominee (2014), Goodreads Choice for Best Young Adult Fiction (2012)


Pertama….*ambil nafas*…

Saya akui saya bukan penggemar genre ini. Akan tetapi harus saya akui kalau buku ini benar-benar bagus. Saya tidak menyangka akan jatuh cinta pada cerita yang ada dibuku ini apalagi dengan genre yang diluar minat saya dan bahkan saya hindari…. pada awalnya.

Kenapa? alasannya sepele…. karena saya mendapati tulisan ‘Romance’ di sampul buku ini… yang jujur saja buat saya (maaf nih) label tersebut salah karena buku ini lebih menitik beratkan kepada drama kehidupan dibandingkan dengan kisah cinta (yah…meski kisah cinta yang ada juga banyak akan tetapi itu juga merupakan bagian dari drama yang ada). Dan karena alasan itu tadi saya hanya melihat buku ini saat ada di rak toko buku yang saya kunjungi meskipun hati sebenarnya ingin membeli. Dan beruntunglah saya diberi buku ini oleh penerbit sebagai tanda terima kasih atas partisipasi dalam mengikuti ajang lain. Salah! Sebenarnya sayalah yang harus banyak berterima kasih kepada penerbit karena memberikan kesempatan pada saya dan gratis untuk membaca buku ini.

(maaf curcolnya kepanjangan)


Bercerita tentang sebuah kisah kehidupan remaja berusia 16 tahun yang bernama Hazel Grace pengidap kanker. Sebuah kisah sederhana dengan mengeksploitasi kisah seorang pengidap kanker? Iya. Akan tetapi kisah yang terjadi tidak sesederhana itu.

Buku ini berkisah tentang perjuangan hidup seorang remaja yang tegar dan gigih dalam menjalankan kehidupannya. Menganggap bahwa dia hanyalah remaja biasa yang tidak mempunyai ‘keistimewaan’ dan hanya ingin menjalankan hidupnya dengan normal, disaat orang lain khawatir dan cemas akan keadaannya. Semangat hidupnya yang besar tidak sebesar kekuatan tubuhnya untuk hidup. Yang tidak suka mendatangi Support Group (yang diterjemahkan sebagai ‘Kelompok Pendukung” yang buat saya pribadi lebih ke “Kelompok Penyemangat” berdasar atas tujuan kelompok tersebut) dimana orang-orang yang mengalami kasus/ kisah serupa berkumpul, bercerita dan saling menyemangati satu sama lain untuk menghadapi permasalahan tersebut.

Waktu pertama kali saya membaca beberapa halaman awal buku ini. Pikiran saya langsung teringat dengan kisah perjuangan anak kecil yang mengalami kesulitan dalam bernafas dan harus membawa tabung oksigen kemanapun dia pergi (meskipun dalam kasus ini dia dibantu oleh anjingnya, Mr. Gibbs).

Kembali ke buku.

Kisah perjuangan Hazel tidak hanya berhenti disitu saja. Berlanjut keinginannya untuk mengetahui kelanjutan cerita buku kesukaannya, perjalanan yang harus dilaluinya dan peristiwa-peristiwa yang dialaminya menjadi kisah yang menarik untuk selalu diikuti. Belum lagi kisah cintanya yang tumbuh seiring dengan berjalannya waktu menjadi ‘bumbu’ tersendiri dalam buku ini.

Kadang saya meragukan buku ini…apakah buku ini benar-benar buku fiksi karena hal-hal yang terjadi didalamnya terasa begitu nyata setidaknya untuk saya. Memainkan emosi saya naik turun, di satu bagian buku ini bisa membuat saya tersenyum dan tertawa karena dialog yang ada didalamnya dan ada saat dimana emosi saya dibawa turun sampai ke dasar (harus saya akui kalau saya hampir menangis sedih) di bagian lain. Terasa tidak asing? Yah, karena itulah hidup, yang saya yakin kita juga mengalami hal yang serupa karena itulah terasa nyata.

Dan dari buku ini pula mengingatkan saya kembali bahwa ‘Jangan hanya melihat keatas, akan tetapi lihatlah kebawah’.

Cukup untuk kisah yang ada dibuku ini karena ketakutan saya untuk mengurangi kenikmatan kalian yang belum membaca buku ini.

Untuk desain sampul sendiri, saya agak keberatan dengan adanya gambar anak kecil, rumah dan segala hal yang ada dibagian bawah (yang berwarna kuning) pada sampul buku terjemahan ini. Karena terkesan (maaf) kekanakan meski saya akui sampul ini eye-catching sekali dengan komposisi warnanya dan mencerminkan sifat tokoh utamanya. πŸ˜€

Grafis yang ada di halaman dalam buku ini….ehm… buat saya agak menganggu konsentrasi (saya bilang ‘agak’ lho) bukan karena gambarnya (meski agak ilfil juga liat banyak gambar hati disana…kenapa nggak bintang-bintang aja) tapi ketika gambarnya menumpuk sama sedikit hurufnya, jadi harus memposisikan secara pas tulisan sama mata.

Buku ini juga mengalir begitu saja, Alur ceritanya yang asyik untuk diikuti, penokohan dan penggambaran karakter yang kuat dan jelas.

Kutipan favoritku di buku ini:

“Akan tiba saatnya, ketika semua mati. Kita semua. Akan tiba saatnya ketika tidak ada lagi umat manusia yang tersisa untuk mengingat bahwa manusia pernah ada atau spesies kita pernah melakukan sesuatu. Tidak akan ada siapa pun yang tersisa untuk mengingat Aristoteles atau Cleopatra, apalagi mengingatmu. Semua yang kita lakukan, dirikan, tuliskan, pikirkan, dan temukan akan terlupakan,” hal. 22

Entah kenapa… waktu baca tulisan itu (dan mengetiknya di blog ini) saya merasa bahwa meski tulisan itu terkesan bahwa semua usaha saya akan sia-sia tapi bagi saya pribadi kalimat tersebut sebagai cambukan bahwa “aku harus melakukan semaksimal tenaga dan kemampuanku supaya aku tidak mudah untuk dilupakan (in a good way of course)”.

Sebuah akhir yang indah untuk kisah yang indah.


Trivia:

Enchilada
adalah makanan utama di kawasan Meksiko. Makanan ini terdiri dari tortilla yang diisi lalu digulung, setelah itu diberi saus cabai. Enchilada dapat diisi apa saja, termasuk daging, keju, kentang, sayuran, makanan laut atau campuran. Source: Wikipedia

 

 

Tortilla
adalah sejenis flatbread yang biasanya terbuat dari gandum. Flatbread adalah roti sederhana yang terbuat dari tepung, air dan garam yang kemudian dipipihkan. Source: Wikipedia

 

 

 

V for Vendetta
adalah film tahun 2006 yang ceritanya diadaptasi dari sebuah novel grafis berjudul V for Vendetta karya Alan Moore dan David Lloyd, yang menceritakan tentang seseorang yang berinisial “V” yang berjuang untuk menghacurkan rezim pemerintahan otoriter di Inggris. Source: Wikipedia

 

 

BiPAP (Bilevel Positive Airway Pressure)
digunakan pada saat membutuhkan tenaga pendukung untuk memompa udara pada saluran pernafasan saat menghirup udara. Indikasinya adalah kita sulit untuk menghirup udara saat bernafas. Termasuk pneumonia, chronic obstructive pulmonary disease, asthma dan status asthmaticus.

Source: Wikipedia

Other :
The Fault in our Stars Movie @ IMDB
The Fault in our Stars @ Wikipedia
The Fault in ur Stars, The MetatextΒ  (Serba-serbi yang ada dibuku ini. πŸ˜€ )
John Green (Author)

Original Cover:

Other Editions :