Women’s Murder Club (Part 1)

WMC

Goodreads’ Link list:
1st to Die (Women’s Murder Club, #1)
2nd Chance (Women’s Murder Club, #2)
3rd Degree (Women’s Murder Club, #3)
4th of July (Women’s Murder Club, #4)
The 5th Horseman (Women’s Murder Club, #5)
The 6th Target (Women’s Murder Club, #6)
7th Heaven (Women’s Murder Club, #7)
The 8th Confession (Women’s Murder Club, #8)
The 9th Judgment (Women’s Murder Club, #9)
10th Anniversary (Women’s Murder Club, #10)
11th Hour (Women’s Murder Club, #11)
12th of Never (Women’s Murder Club, #12)

Wikipedia’s Link

Greets!!!

Selamat pagi-siang-sore-malam semuanya.

Kali ini saya bakalan mengulas salah satu seri yang baru saja saya selesaikan buku-bukunya yang saya punya. Yup…buku-bukunya alias dua belas buku berkelanjutan sekaligus. Karena rasanya entah kenapa bukunya sedikit susah dilepas. Women’s Murder Club karya James Patterson dan Andrew Gross (untuk buku dua sampai tiga) dan Maxine Paetro (untuk buku selanjutnya sampai coretan ini ditulis – buku kelima belas).

Kali ini saya akan membahas keduabelas buku pertamanya (yang kebetulan saya hanya punya sampai buku keduabelas) dan mudah-mudahan saya bisa melanjutkannya ke bagian selanjutnya (untuk buku-buku seterusnya). Disini saya akan menggambarkannya secara keseluruhan buku alih-alih satu per satu karena menurut hemat saya, karena ini masuk dalam kategori misteri yang tidak menarik apabila tidak dibaca sendiri (baca: malas bikin revie per judul).


Berkisah tentang keseharian Lindsay Boxer, seorang detektif wanita bagian pembunuhan dari satuan polisi San Francisco (San Francisco Police Department – SFPD) yang bertugas memecahkan dan menuntaskan kasus yang mereka hadapi, dibantu oleh sahabatnya Claire Washburn yang kebetulan pula bertugas sebagai Medical Examiner, Cindy Thomas, reporter dari harian The Chronicle yang terkadang membantu mendapatkan informasi ‘tak resmi’ dan sebagai ganti berita eksklusif yang ditulisnya. Ada pula Jill Bernhardt, ADA – Assistant District Attorney yang tentu saja membantu dalam hal surat penggeledahan dan sebagainya. Kemudian sebagai tambahan, Yuki Castellano, seorang pengacara muda yang cerdas blasteran Jepang Italia.

Mereka tergabung dalam sebuah perkumpulan tak resmi “bermarkas” di Susie’s, sebuah tempat makan yang sering mereka gunakan sebagai tempat bertemu untuk membicarakan kasus yang mereka tangani dan kehidupan mereka sehari-hari yang kesemuanya ‘off the record’ atau tidak tercatat dalam laporan apapun sampai secara resmi dan tidak bisa digunakan sebagai bahan dalam penulisan artikel (bagi Cindy tentunya) sampai pada saat Cindy mendapatkan lampu hijau dari Lindsay, yang bisa dibilang sebagai ketua dari Women’s Murder Club.


13744096_1745588749012588_990354281_n

Secara keseluruhan, ceritanya ditulis dengan sangat apik, beralur cepat dan bisa dinikmati meskipun beberapa hal masih kurang dalam hal penggambaran latar belakang. Akan tetapi untruk cerita semacam ini, hal tersebut tidak mempengaruhi jalannya cerita karena hal yang digunakan pada akhirnya adalah hal yang tertulis pada awalnya, petunjuk yang ada telah dituliskan sebelumnya meski harus diakui beberapa hal masih tampak samar.

Karakter yang dipergunakan oleh JP dan co-Authornya pun berhasil digambarkan dengan sangat baik dan jelas. Mulai dari Lindsay yang tinggi (menjulang) untuk ukuran perempuan, barhati gigih, pantang menyerah dan mempunyai insting yang bagus dalam setiap kasusnya sampai ke Cindy yang terobsesi dengan pekerjaannya, cekatan dan gesit dan cerdik dalam mencari cara untuk mencari informasi baik untuk klubnya sekaligus sebagai bahan tulisan untuk artikelnya berkenaan dengan kasus yang sedang mereka hadapi.

Tokoh-tokoh minor lainnya seperti Rich, Brady-pun cukup digambarkan dengan sangat baik.

Untuk beberapa buku awal, cerita berfokus kepada Lindsay yang berusaha memecahkan kasus yang ditanganinya bersama dengan rekan kerjanya, Jacobi Warren. Tapi kemudian setelah buku ketiga, cerita mulai lebih fokus ke kejadian lainnya juga, entah dari sisi Claire, Cindy, Jill, Yuki atau tokoh lainnya (mungkin karena penggantian penulis). Bahkan pada buku kesebelas dan keduabelas, cerita berkenaan dengan Lindsay banyak sedikit berkurang.

Drama, tentu saja ada. Meskipun porsinya sangat sedikit, romantisme dan kehidupan pribadi tokoh-tokoh yang ada cukup untuk memberikan warna kepada buku yang bisa dibilang “sedikit kelam” ini. Meski terkadang, saya merasa masih belum cukup dan ada kalanya lebih tertarik kepada keseharian mereka.

Kasus yang dihadapipun sangat beragam, ada yang terjawab dengan mudah, ada yang membutuhkan usaha lebih, bahkan ada yang masih menimbulkan ketidakpastian sampai akhir. Beberapa kasus bahkan malah bisa diselesaikan tapi masih digantung oleh penulis, yang kemudian saya pelajari akan diselesaikan pada buku berikutnya, entah yang mana karena tidak berurutan. Ada pula kasus yang memberikan kepuasan buat pembacanya dan kasus yang.. yah… membuat emosi…sedikit sih tapi. Buku ini pun diwarnai dengan banyak kejadian tak terduga lainnya. Semua kejadian ditulis dengan baik dan memuaskan.

Jujur saya sendiri, memberikan rating dengan ikhlasnya untuk seri ini antara tiga dan lima bintang, dengan mayoritas empat bintang. Mungkin karena saya menyukai wanita tangguh, cerdas dan berkepribadian kuat. #plakk

Overall, saya puas dengan karya James Patterson yang satu ini. Kebetulan saya membaca buku dalam bahasa aslinya, Inggris, karena setelah mencoba terjemahannya yang diterbitkan oleh Gramedia beberapa lembar. Sedikit lucu bagi saya pribadi (mungkin karena saya hanya baca beberapa lembar).

Women’s Murder Club (TV Series)

Women-womens-murder-club-9779111-1024-768

Seperti Sunday at Tiffany’s, beberapa buku Alex Cross dan yang terakhir , Zoo.

Seri ini sempat mencicipi layar televisi dalam perkembangannya. mengangkat konsep serupa dengan bukunya, yang sesuai dengan judulnya. Seri 13-episode ini juga mengangkat kisah tentang Lindsay Boxer dan teman-temannya. Akan tetapi, pada seri ini hanya karakter merekalah yang dipakai dan bukan cerita pada bukunya. Banyak perubahan berkenaan dengan korelasi antar permain, kasus dan lain sebagainya. Seperti misalnya, Tom yang merupakan mantan suami Lindsay, kembali dan bekerja di tempat yang sama sebagai atasan sedangkan pada bukunya hanya disinggung pada buku pertamanya, Cindy Thomas bekerja untuk The Register dan The Chronicle adalah pesaing mereka dan masih banyak lagi.

Jadi buat kalian yang pengen mencoba seri tanpa membaca bukunya, tak usah takut. Karena buku dan TV seri jauh berbeda. Tapi, buat saya pribadi, seri ini tidak sebagus bukunya, meski dibantu dengan visual, akan tetapi saya masih menilai bahwa karakter yang ada di buku lebih kuat. Oleh karena itu, jangan menilai bukunya dari serinya.

Sayang, seri ini hanya bertahan satu musim saja, jadi tidak ada kemungkinan kita bisa mengamati perkembangan para karakternya,

imdb’s Link
Wikipedia’s Link

wmcforfyeah

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s