[QR] The Rose & The Dagger (The Wrath & the Dawn #2)

rosedagger

Gosh, I’m melting….

Sweet Romance story by Renee Ahdieh. at the beginning, I thought this book is one of fantasy. But after read The Wrath & The Dawn then I realized that the fantasy itself is about a little bit magic and the rug, other than that I prefer to called it Romance.

Sebuah kisah manis yang ditorehkan oleh Renee Ahdieh dengan mengangkat kisah yang berlatar belakang negeri 1001 malam. Sebuah perjuangan cinta dari sang raja pembunuh dan perempuan yang bertekad untuk membunuhnya. Masih ditulis dengan apik dan mengalir di setiap kata-katanya, mudah untuk dibaca dan dimengerti sekaligus untuk di-imajinasikan dalam putaran otak pembaca. Setiap adegan terlihat jelas meski ada yang kurang masuk diakal, seperti “menendang pisau”, they’re in the desert, right? is it possible to do that without kicked the sands too. Sepele, tapi cukup untuk membuat saya terikat dengan kalimat tersebut setelah beberapa halaman.

Meski dari segi cerita tak secemerlang seperti buku pertamanya akan tetapi dilihat dari keseluruhan cerita buku ini berhasil menyajikan akhir yang, tentu saja kurang memuaskan saya tapi berhasil menutup kisah dengan cantik. Saya pribadi (bilang saya kejam) tapi ingin aksi yang menegangkan, memacu adrenalin di akhir cerita untuk mengantarkan anti klimaks. Pada buku ini terlihat datar, meski baru sadari pada akhirnya “apakah buku seperti ini cocok dengan hal yang kejam didalamnya”.

Masih banyak hal yang ditinggalkan begitu saja tanpa menjadi perhatian, Seperti kisah sang sultan, sang ayah, sang prajurit yang kesemuanya dianggap seperti angin lalu, seperti kisah yang tak terbantahkan yang diabaikan begitu saja. Bahkan kisah tentang karakter dan benda yang dibawanya tidak diceritakan lebih lanjut. Padahal menurut saya, kisah mereka bisa menambah buku ini menjadi lebih kuat. Penulis memutuskan bahwa kisah-kisah mereka harus diselesaikan dalam angan.

Tapi meski begitu, 4 bintang untuk buku yang sukses membujuk saya menyelesaikannya dengan cepat dan puas.

PS. Terjemahannya sendiri, saya bilang memuaskan meski beberapa kalimat harus dibaca dua tiga kali dan typo yang cukup menganggu. “membingungkankannya”, “tergkurap” dan beberapa lainnya.

 

Advertisements

[GR] The Invasion of the Tearling (The Queen of the Tearling #2)

tearlingThe Invasion of the Tearling by Erika Johansen

My rating: 2 of 5 stars

Entahlah… apa yang kupikirkan saat memberikan 2 untuk buku ini. Mungkin karena kesan yang saya dapatkan seperti itu ataukah karena ada alasan lain? Entahlah.

Sebagian besar kisah yang ada dalam buku ini bisa dibilang membosankan, terkesan dipanjang-panjangkan dan tidak masuk diakal.

Peperangan di depan mata, tapi waktu yang dilewatkan dengan kisah yang bisa dibilang tidak berhubungan. Cinta, politik, dan kisah lain pra penyebarangan yang ditulis dengan panjang. tapi apakah kisah itu tidak beralasan? jawabannya tidak. Karena cerita yang ditorehkan turut membangun buku ini secara global, mempelajari sejarah berdirinya Tear, mempelajari garis keturunan dan sebagainya. Sayangnya, bagi saya pribadi terlalu panjang.

Cerita utamanya sendiri mengalami hal yang sama, apalagi pada bagian awal yang penuh dengan narasi deskripsi, yang jujur saja membuat saya seperti membaca buku pelajaran yang penuh dengan teori. Lagi-lagi, apakah kisah itu tidak beralasan? jawabannya masih sama, tidak. karena turut membangun dunia yang ada di dalam buku ini, akan tetapi bukankah itu seharusnya diceritakan sedari awal, termasuk tentang Tearling itu sendiri. Itu hak penulis sebenarnya, dimana dia akan mengangkat dan menuliskan cerita pada bukunya. Tapi saya sebagai pembaca, melihat bahwa pada buku ini menjadi terlalu panjang KARENA mereka akan menghadapi peperangan, yang sepertinya diabaikan pada hampir lebih dari separo buku.

Untungnya, satu bab yang diletakkan di belakang bisa membantu menaikkan rasa penasaran pembaca dan bertanya-tanya apakah yang akan terjadi selanjutnya.

Jadi, siapa sebenarnya Mandy?

NB: Prajurit berseragam merah putih yang mengingatkan saya kepada prajurit skandinavia dan sejenisnya (tentu saja karena ini di Eropa) pada sampul bukunya, sangat bertolak belakang dengan kesan yang saya dapatkan dari buku ini yang kelam. Bayangan saya adalah warna-warna gelap dan kusam XD. Dan selama ini saya pikir Kelsea nggak pakai mahkota karena belum ditemukan XD
Stamp

View all my reviews

[GR] Daughter of Smoke & Bone (Daughter of Smoke & Bone #1)

SmokeDaughter of Smoke and Bone – Dari Asap dan Tulang by Laini Taylor

My rating: 3 of 5 stars

Paperback, 488 pages
Published September 2012 by Gramedia Pustaka Utama (first published September 27th 2011)
Original Title:  Daughter of Smoke & Bone
ISBN13: 9789792287813
Edition Language: Indonesian

3 is generous enough

reading this book is like a landslide..
when it’s opened with a good story and ended with a bad one. almost bored to the end.

at first opening the pages is a kind of a great feeling and exciting in every part, because Karou’s life and love is more interesting than the other stories. and yeah, i really don’t care where she come from.

at the middle, the story begin to start sinking for me. new character that interesting yet mysterious, the development gone to the direction that i’m not really expected to.

at the end, it’s all about her story or to be exact is all about herstory (history), where she came from, what is she etc. even it’s end up with ‘question’ line what will happen next. even though this part is not as thick as any other part but, the story makes this one thicker.

———
Sebenarnya pada awal mula cerita, buku ini mempunyai daya tariknya tersendiri. saya kira buku ini mengenai kehidupan sang karakter utama, sekarang. tapi kenyataannya, buku ini lebih berisi tentang sejarah hidup Karou dan siapa dia sebenarnya, yang menurut saya sebenarnya cukup membosankan. latar belakang tokoh memang sangat penting tapi, disini, penulis seolah mengulur-ulur waktu demi tercapainya jumlah halaman buku. sedari pertengahan halaman yang akhirnya dikisahkan pada akhir bagian buku dengan cukup membosankan.

World building-nya sendiri tidak terlalu kuat bagi saya, bahkan berulang kali saya meyakinkan dan mengingatkan bahwa kejadian ini berlangsung di Praha, itu juga karena membaca kata tersebut pada buku ini, ketika otak mengacu pada budaya dan kultur amerika dengan gedungnya, yang tidak cukup menegaskan keberadaan bangunan yang menjadi faktor pendukung cerita seperti di Praha.

Dari segi emosi, buku ini tidak terlalu banyak mempengaruhi emosi saya yang biasanya terbawa dalam suasana dan kisah yang dialami karakternya.

Kesimpulannya, sebagai bacaan buku ini jangan diharapkan lebih, pada permulaan boleh tapi semakin bertambahnya halaman, buat saya semakin membosankan. Mudah-mudahan buku selanjutnya lebih berfokus pada kehidupan Karou yang sekarang dan tidak diombang-ambingkan dalam cerita yang tak tentu arah.
Stamp

View all my reviews